Jauh dari desa Surya, di kedalaman tanah yang tak tersentuh cahaya, sebuah formasi berbentuk bintang tergambar dari darah yang telah mengering. Lima wanita duduk bersila di setiap ujung formasi, wajah mereka pucat dan tubuh mereka gemetar menahan kelelahan. Di tengah formasi, empat kristal berkilau memancarkan cahaya warna-warni, menyinari ruangan dengan sorot temaram. Di dalam masing-masing kristal, tampak bayangan samar diselimuti kabut hitam yang menggeliat perlahan, seperti sedang berusaha melepaskan diri dari penjara sihir kuno yang mengekangnya.

"Nyonya..." Sari berbicara dengan napas terputus-putus, wajahnya menahan rasa sakit dari luka dalam yang belum sembuh. "Keempat fragmen senjata iblis... sudah berhasil kita perkuat lagi segelnya. Ini saatnya... kita membalas pria tua itu."

Beberapa hari sebelumnya, Mira dan keempat penyihir pengikutnya kembali ke markas mereka setelah melawan Monrest. Amarah membuncah di wajah mereka ketika melihat tempat itu sunyi. Tidak ada penjaga. Tidak ada tahanan. Bahkan Rira, yang telah diberi sihir khusus dan menjadi orang kepercayaan mereka ikut menghilang tanpa jejak.

Tidak lama setelah mereka mencari keberadaan para tahanan, tiba-tiba dari langit-langit ruangan, bayangan hitam besar meluncur turun dengan kecepatan mengerikan. Ia melayang mengitari Mira, berputar seperti pusaran malam. Mira tak membuang waktu. Dengan satu gerakan cepat, ia mengangkat tongkatnya. Cahaya biru memancar, dan bayangan itu tertarik masuk ke dalam bola kristal di tangannya.

"Jiwa terkutuk," ucap Mira dengan suara datar, tapi sarat tekanan. "Katakan. Apa yang terjadi di sini."

Kristal mulai bersinar, menyebarkan cahaya suram. Perlahan, gambaran kabur muncul di dalamnya, bayangan peristiwa yang tertangkap oleh makhluk yang mereka sebut jiwa terkutuk. Ia adalah salah satu rekan Rira yang selalu terlihat misterius, tubuhnya seperti boneka karena berasal dari jasad seorang kultivator yang dihidupkan kembali dengan dimasukkan jiwa terkutuk, yaitu jiwa seseorang yang disihir oleh Mira untuk menjadi pengikutnya. Tujuan jiwa terkutuk di hidupkan hanya satu, mengawasi dan membantu Rira dalam menjalankan misi.

"Nyonya..." bisik Rina, suaranya hampir hilang ditelan ketegangan. "Itu... Lynx. Dia menemukan tempat ini. Bagaimana bisa?"

"Tidak mungkin," gumam Dita, matanya membelalak. "Kenapa dia datang justru saat kita sedang pergi? Bukankah tempat ini tersembunyi dan sudah di berikan sihir pelindung untuk menghilangkan jejak? Seharusnya tidak ada yang bisa menemukannya..."

Mira tak menjawab. Tatapannya tetap terpaku pada cahaya kristal yang perlahan meredup. Lalu, tanpa peringatan, ia berbalik dan berjalan cepat menuju ruangan pribadinya. Empat penyihir lainnya mengikuti dari belakang.

Ruangan itu dipenuhi cermin. Puluhan, ratusan, mungkin ribuan pantulan wajah Mira menyambut mereka, terdistorsi oleh lengkungan dan bentuk aneh permukaannya. Tanpa ragu, Mira mengangkat tangan dan menaburkan bubuk bintang ke arah salah satu cermin. Mantra dirapal pelan, setiap kata menebarkan tekanan magis ke udara.

Bayangan Rira yang masih dalam pengaruh sihirnya muncul dari dalam cermin, terbaring tak sadarkan diri. Di sekelilingnya, para prajurit yang juga berada di bawah pengaruh sihir masih tidak sadarkan diri karena efek obat bius yang di berikan Lala.

"Di mana mereka dikurung, Nyonya?" tanya Lila pelan, takut mengganggu suasana yang makin menegang.

"Jiwa terkutuk memperlihatkan kepada kita jika Lynx membawa mereka masuk ke dimensi dunia kecil," jawab Mira. Suaranya tenang, tapi tangan yang menggenggam tongkat bergetar. "Aku menduga Lynx menyembunyikan mereka di sana. Kita tidak bisa menemukan posisi pastinya sekarang."

Ia menarik napas panjang, lalu mengangguk pada dirinya sendiri.

"Belum waktunya kita berhadapan dengan Lynx. Kita perkuat dulu segel keempat fragmen ini. Aku tidak mau pria tua itu menemukan cara untuk memanggilnya dari jarak jauh."

"Baik, Nyonya," sahut mereka serempak, tanpa satu pun berani menentang.

Hari-hari berikutnya mereka habiskan di ruang dimensi khusus. Mantra demi mantra, sihir penguat dilantunkan. Keringat membasahi tubuh mereka, darah mengalir lagi, dan semangat terkikis sedikit demi sedikit.

Namun akhirnya, segel itu berhasil diperkuat.

Kini mereka duduk dalam keheningan, mata mereka tertuju pada kristal yang sudah tenang.

"Pria tua itu..." gumam Rina pelan, "...masih bisa kita kalahkan, kan?"

Mira tidak langsung menjawab. Ia menatap dalam ke kristal. Kilatan cahaya di dalamnya seperti bayangan mata Lynx yang mengawasi mereka dari jauh.

"Dia masih bisa kita hadapi. Aku belum serius menghadapinya bahkan belum memanggil salah satu dari dua belas sihir zodiak. Dengan memanggil mahluk dunia bawah kita juga bisa membunuhnya tanpa harus melelahkan diri." ujarnya dengan santai. "Tapi Lynx... dia bukan manusia biasa. Ramalan itu... kekuatan yang dimilikinya menembus dimensi. Dia terhubung dengan sihir, ruang, waktu. Bahkan alam roh pun tak bisa menutupinya. Karena itu aku harus mendapatkan tubuhnya yang menjadi sumber kekuatannya."

Semua terdiam memikirkan kemampuan Lynx yang jauh di luar batas.

***

Di sebuah rumah besar yang tersembunyi di balik formasi peredam suara, segala aktivitas di dalamnya benar-benar terisolasi dari dunia luar. Lynx berdiri di dekat jendela, tubuhnya masih sedikit basah setelah mandi. Tatapannya tertuju pada Leena yang masih terbaring di ranjang, tertidur tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya. Nafasnya masih belum teratur, tubuhnya terlihat lelah namun wajahnya damai.

Rumah itu kini menjadi tempat tinggal mereka, dan ranjang empuk tempat Leena berbaring adalah salah satu ranjang terbaik yang Lynx ambil dari laboratorium milik Lala. Di dunia kultivasi, tempat tidur sekuat dan semewah apa pun tak pernah bisa menandingi kenyamanan kasur modern yang dirancang khusus untuk kelembutan, daya tahan, dan kenyamanan maksimal.

Ketika Leena perlahan membuka mata, Lynx membungkuk dan mengecup bibirnya dengan lembut.

"Pagi, Sayang. Malam tadi kamu benar-benar luar biasa," ucap Lynx dengan senyum hangat.

Leena mengerucutkan bibirnya dan mencibir manja. "Luar biasa apanya? Aku bahkan tak bisa menggerakkan tubuhku sekarang. Kamu terlalu ganas waktu bermain."

Lynx tertawa kecil, lalu duduk di tepi ranjang, tangannya mengusap lembut rambut Leena yang terurai. "Aku merindukanmu. Dan malam tadi kamu juga berbeda dari biasanya... kamu sangat berani. Bahkan kamu mengulum tongkat saktiku dengan lihai. Tidak seperti biasanya."

Leena segera menutup wajahnya dengan bantal sambil bergumam, "Jahat. Kenapa kamu ucapkan itu? Aku malu..."

Ia menarik napas, lalu menatap langit-langit kamar, tatapannya kosong sejenak. "Tapi… sejak tidak ada yang mengintip lagi, aku merasa lebih bebas. Aku tidak terlalu khawatir seperti dulu."

Lynx terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Seharusnya kamu bilang dari awal... Aku juga malu kalau mengingat ada seseorang yang diam-diam memperhatikan kita selama ini dari lautan kesadaranmu."

Dia tersenyum tipis. "Tapi aku senang. Kekuatanmu sekarang meningkat pesat, dan itu membuatku lebih tenang. Aku tak perlu lagi menahan diri sekuat dulu agar tidak menyakitimu."

Dalam hatinya, Lynx mengucap syukur pada almarhum Guru Mochi, kakek Lala, yang telah mengajarinya cara mengendalikan kekuatan. Sehingga saat dia mendapatkan kekuatan luar biasa yang bisa menghancurkan apa pun hanya dengan gerakan kecil, dia mampu mengontrol kekuatannya. Sejak itu, ia terus berlatih mengontrol dirinya, bahkan dalam momen paling intim sekalipun.

Leena memiringkan tubuhnya, menatap wajah Lynx yang teduh dalam cahaya pagi.

"Sayang... sejak kita berada di dunia ini, kamu selalu... mengeluarkannya di dalam. Kalau aku hamil, apa kamu sudah siap? Bagaimana kalau orang-orang rumah tahu aku hamil saat kita pulang nanti?"

Nada suaranya lirih. Ada ketakutan lama yang akhirnya bisa ia ungkapkan sekarang, setelah Yan Ruyan tidak lagi mengintai dari dalam lautan kesadarannya. Dulu ia terlalu takut untuk membicarakan hal ini, takut suaranya didengar oleh jiwa lain yang terus mengawasi dan menertawakannya.

Lynx menoleh padanya dan menggenggam jemarinya dengan lembut.

"Leena, Sayang. Saat kita di Planet Surya, aku memang selalu keluarkan di luar saat kita berhubungan intim. Tapi setelah mendapat warisan dari leluhur Xiao Tang dan mempelajari kitab pengobatan, aku menemukan metode untuk mensterilkan sperma secara sementara dengan manipulasi energi dalam. Tidak akan ada pembuahan."

Leena membelalakkan mata. "Kamu… belajar hal-hal seperti itu?"

"Aku... tidak sengaja menemukannya," jawab Lynx sambil menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Awalnya iseng. Tapi ternyata berguna."

Dia tidak berani mengakui kalau sebenarnya ia sengaja mencarinya. Dalam diam, ia mempelajari ratusan ilmu dari kitab kuno, hanya demi memastikan ia bisa mencintai Leena sepenuhnya tanpa membahayakan atau membebani masa depan mereka.

